Buku

Review Buku Tentang Kita – Reda Gaudiamo

Buku Tentang Kita - Reda Gaudiamo

Penulis : Reda Gaudiamo

Editor : Herlina P. Dewi

Proof Reader : Weka Swasti

Foto & Desain Cover : Linda Thio

Penerbit : Stiletto Book

Cetakan I : April 2015

ISBN : 978-602-7572-37-9

 

Kumpulan cerpen Reda Gaudiamo ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang : dari akhir 1980-an hingga 2014.

Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. Tetapi ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen lain : semua berkisah tentang keseharian, tentang hati, dan cinta manusia biasa.

 

***

 

“Sayang…”

“Hmmm…”

“Sudah jam tujuh.”

“Jam tujuh? Aduh, terlambat!”

“Sudah bukan terlambat lagi, Sayang. Kita anggap saja ini hari libur nasional keluarga kita.”

“Aduh!”

“Anakmu melompat kegirangan melihat kau belum bangun.”

“Aduh!”

“Kenapa aku tidak dibangunkan?”

“Sayang, ternyata cuma kau yang bisa bangun pagi.”

“…”

 

Itu adalah cuplikan dialog salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen Tentang Kita. Cerita yang bikin aku tersenyum dan langsung membayangkan jika suatu hari aku juga terlambat bangun seperti yang terjadi dalam cerpen diatas. Mungkin akan ada hari libur nasional keluarga juga di keluargaku saat itu hahaha 😀

Buku kumpulan cerpen Tentang Kita ini memuat 17 buah cerpen, dengan judul sebagai berikut:

  1. Ayah, Dini, dan Dia
  2. Mungkin Bib Benar
  3. Anak Ibu
  4. Potret Keluarga
  5. Tentang Kita
  6. 24 x 60 x 60
  7. Si Kecil
  8. Perjalanan
  9. Bayi
  10. Menantu
  11. Taksi
  12. Minggu Dini Hari
  13. Aku : Laki-Laki
  14. Maaf
  15. Cik Giok
  16. Dunia Kami
  17. Pada Suatu Pagi

Judulnya singkat, ya? Judul yang singkat ini malah mengundang rasa penasaran untuk segera membaca isinya.

 

Aku suka semua cerita dalam buku ini, tapi ada beberapa yang menjadi favoritku, yaitu :

Tentang Kita

Tak salah jika judul cerpen inilah yang dipilih menjadi judul buku. Cerita pasangan muda dengan problemanya. Penantian akan si buah hati dan pekerjaan, dua hal yang sama-sama berperan penting. Sangat menyenangkan jika kedua hal ini bisa berjalan seiring. Tapi jika dihadapkan pada pilihan untuk memilih salah satu, tentu merupakan hal yang sangat sulit. Bagaimana endingnya? Silahkan baca sendiri 🙂

 

Anak Ibu

Cerita ini full dialog, tapi sama sekali tak terlihat monoton. Malah mak jleb banget deh, aku jadi berkaca pada diriku sendiri. Seakan aku adalah sang ibu yang selalu menuntut ini dan itu kepada anakku, dari nilai ulangan yang bagus sampai pemilihan jurusan di sekolah. Mungkin selanjutnya juga akan seperti itu, memaksakan egoku kepada anak saat kuliah, mencari suami dan masalah pekerjaan, semuanya dengan satu kalimat yang hampir selalu tak terbantahkan oleh si anak, “Kamu kan, anak Ibu…”

 

Si Kecil

Berkisah tentang seorang anak lelaki dengan kaki kiri tak normal, selalu duduk dan mengemis di tempat yang sama, di jembatan penyeberangan. Seberang kantor, tempat sepasang suami isteri bekerja. Tokoh aku (istri) mulai merasa ada yang aneh saat suaminya selalu memberi uang receh kepada anak kecil itu selama 2 minggu penuh. Ternyata sang suami ingin membawa anak kecil itu pulang ke rumah mereka, ide ini jelas ditolak dengan keras oleh isterinya. Sampai saat suami hendak pergi ke Batam dan menitipkan kepada istrinya, sehelai baju hangat dari bahan rajut untuk diberikan kepada anak kecil itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Ah, cerita ini mampu membuatku menitikkan air mata.

 

Pada Suatu Pagi

Lewat cerita ini, tergambar jelas kehidupan saat usia senja, dimana fisik sudah lemah dan keinginan hati yang tak lagi bisa dipahami oleh anak dan keluarga tercinta. Menyedihkan sekali.

Membaca cerita terakhir dalam buku ini membuatku merinding, aku jadi teringat dengan orangtuaku. Di usia senja mereka, sudahkah aku mampu mengukir senyum di wajah mereka atau malah sibuk dengan duniaku sendiri? Sudahkah aku memahami keinginan dan harapan mereka? Bagaimana jika suatu saat, akulah yang berada dalam posisi sebagai sang nenek?

 

“Bukan pemakaman terbaik, termewah dan kelompok pembaca doa berseragam yang kunanti, tapi percakapan, gelak tawa, berbagi cerita yang berlangsung ketika kita masih bersama, ketika waktu masih ada, ketika napasku masih ada, Nak…” (hal 203)

 

Baru pertama kalinya ini aku membaca tulisan dari Reda Gaudiamo, dan aku langsung suka dengan gaya penceritaannya. Tak perlu mengerutkan kening atau membaca dua kali untuk mengerti, semua disajikan dengan lugas, mengalir dan mudah dicerna. Semua ceritanya sederhana tapi banyak hikmah yang bisa diambil. Mengena, langsung masuk dalam hati tanpa menggurui.

Alur cerita mengalir lancar dengan karakter tokoh-tokohnya yang tergambar begitu kuat.

Tak heran jika cerita-cerita ini dimuat di berbagai media : Majalah Femina, Kompas Minggu, Majalah Hai, Good Housekeeping Indonesia, Harian Kompas, Majalah Spice, Tabloid Nova, Majalah Gadis. Bahkan cerpennya yang berjudul “Cik Giok” yang dimuat di harian Kompas, diterjemahkan oleh John McGlynn ke dalam bahasa Inggris untuk www.wordswithoutborders.com.

Tema yang diambil oleh Reda Gaudiamo sangat pas sekali dengan keseharian kita, mengajak kita untuk berkaca pada diri sendiri. Yup, cerita tentang keseharian yang terkadang menohok hati dan membuatku merenung. Banyak hal dalam hidup ini yang harus dihadapi, banyak pilihan-pilihan yang mendatangkan dilema tapi tetap harus dijalani. Dan apapun keputusan yang kita ambil, kita sudah harus siap dengan segala resikonya.

 

Banyak hal yang kudapat saat selesai membaca buku ini. Buku ini dengan cerita-ceritanya yang sederhana, mengajarkan banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan, mampu mengajakku untuk merefleksi diri agar bisa bertindak lebih bijaksana, terutama sekali sebagai seorang isteri dan ibu.

 

“Biar saja. Biar orang tahu kita tidak sempurna. Tapi dalam ketidak sempurnaan itu kita sudah bersikap jujur. Kita sedang dalam upaya memperbaiki diri.” (hal 97)

 

Cover buku ini juga terlihat sederhana, dengan background bernuansa putih dan pink dengan sekaleng gula-gula aneka warna di pojok kanan bawah seakan mewakili aneka rasa cerpen dalam buku ini, menggambarkan hidup manusia dengan banyak warna.

Ada beberapa typo kecil, contohnya pada cerpen “Potret Keluarga” nama Addo mendadak berubah menjadi Tino (hal 44). Tapi tetap tak mengurangi keasyikanku membaca buku ini.

Teman, jika ingin membaca cerita-cerita yang dekat dengan keseharian kita, buku kumpulan cerpen Tentang Kita ini sangat layak untuk dibaca.

4 dari 5 bintang dariku untuk buku ini.

 

8 Comments

  1. Lusi June 30, 2015
    • Lianny July 1, 2015
  2. RedCarra July 1, 2015
    • Lianny July 1, 2015
  3. Indah Nuria savitri July 2, 2015
    • Lianny July 4, 2015
  4. Dwi Puspita July 5, 2015
    • Lianny July 7, 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.