Kontes

[Review] Letters To Aubrey

 

letters

Penulis : Grace Melia

Editor : Triani Retno A.

Proof Reader : Herlina P. Dewi

Desain Cover ; Teguh Santosa

Layout Isi : Deeje

ISBN : 978-602-7572-27-0

Jumlah Halaman :266

Cetakan I : Mei 2014

Penerbit : Stiletto Book

Harga : Rp 48.000,-

 

Blurb :

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seorang perempuan.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus-akibat terinfeksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya.

 

Testimoni :

“Perjuangan Ibu Grace untuk Aubrey, putrinya,menunjukkan bahwa setiap anak adalah spesial. Kasih sayang dan pendampingan orang tua, bukan hanya menjadi obat, tapi juga menunjukkan nilai kehadiran seorang anak di antara keluarga.” (Andy F. Noya – Host Kick Andy Show)

Sebagai orang tua, kita pasti pernah mengalami momen “patah hati”. Membaca buku ini, membantu kita membuka mata lebih lebar dan meluaskan hati agar ikhlas. (Maulita Iqtianti – Managing Editor Mommies Daily)

Jadikan kelemahanmu sebagai sumber kekuatanmu, dan kamu akan mendapat kemenangan. Itulah yang dilakukan oleh Mami Ubii. Berbagi suka duka bersama anak yang berkebutuhan khusus seperti Ubii menjadi pengalaman luar biasa yang perlu diketahui banyak orang. Surat-surat ini mengingatkan kita untuk tetap sensitif sebagai orang tua. (Nina Teguh – Kontributor tetap Majalah Berani, Majalah Girl Friend dan Majalah Best Life)

 

Review :

Dunia itu besar, Anakku. Dan kejam. Banyak orang yang lebih senang melihat kita jatuh dan tersungkur. Tapi, kalu lihat, kan? Kita selalu bangkit. Lagi dan lagi. Banyak orang yang mati-matian berharap kita menyerah. Namu, kamu sadar, kan? Kita masih bertahan. Banyak orang yang tidak ingin kita bahagia. Namun, kali lihat, kan? Kita selalu jeli mencari noktah bahagia yang terselip di setiap hal kecil yang kita punya. Dunia itu besar, Anakku. Dan kejam. Tapi kita akan buktikan bahwa tidak satu keadaan pun dapat membuat kita kalah dan menyerah. (hal 18)

Letters to Aubrey merupakan kumpulan surat seorang ibu untuk putrinya yang berkebutuhan khusus akibat terinfeksi virus rubella. Surat pertama di buku ini dari Grace Melia sang penulis (akrab dipanggil Ges) ditulis pada saat putrinya Aubrey Naiym Kayacinta (akrab disapa Ubii ) masih dalam kandungan. Kemudian menyusul surat-surat berikutnya saat Ubii sudah lahir. Ubii lahir pada tanggal 19 Mei 2012 dengan congenital rubella syndrome yang menyebabkannya mengalami kelainan jantung bawaan, gangguan pendengaran sangat berat, gangguan saraf dan gangguan motorik.

Tentu saja Ges dan suaminya, Adit sangat terkejut saat pertama kali mengetahui keadaan Ubii yang bermasalah dengan jantungnya, apalagi saat berlanjut mengetahui kelainan lainnya. Sedih, marah, kecewa, dan putus asa sempat menghantui. Bahkan sempat mempertanyakan kepada Tuhan, kenapa harus mereka yang mengalami semua ini. Tapi akhirnya Adit dan Ges ikhlas menerima keadaan Ubi dan dengan kekuatan cinta yang mereka miliki kepada putrinya itu, mereka berjuang melakukan berbagai hal yang terbaik untuk kesembuhan Ubii. Mendampingi Ubii saat menjalani serangkaian tes dan  fisioterapi. Ges, Adit dan Ubii berjuang bersama dengan semangat yang luar biasa.

Mommy loves you to the bone. That is a fact. But know this and this only, Ubii. Will your condition make us have to struggle to survive? YES! Can we do it? YES! What do you mean to Mommy? THE WORLD. Please keep that in mind. So, are you ready to fight together with Mommy? (hal 43)

Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang ada. Dengan sakitnya Ubii, Ges akhirnya melepas pekerjaannya agar bisa 100% mendampingi Ubii. Cinta tulus seorang ibu ini pula yang membuatnya tetap kuat bertahan dan bahkan akhirnya membentuk komunitas Rumah Ramah Rubella dan membagikan pengalamannya di situ, berbagi dan saling menguatkan para member lain yang mengalami hal serupa. Ges juga diundang menjadi nara sumber di acara Kick Andi.

Ubii sudah mengajarkan Mami untuk menjadi pribadi yang lebih sabar. Ubii sudah mendorong Mami untuk lebih kalem dan berdamai dengan keadaan. Ubii sudah menyadarkan Mami untuk lebih mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara hidup Mami ( hal 221)

Buku ini diakhiri dengan surat dari Adit buat Ubii. Terpancar benar cinta seorang ayah kepada anaknya, saat Adit mengakui bahwa dia sempat “menyalahkan” sakit Ubii dan akhirnya berbalik arah, bahwa sakit Ubii sudah mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ya, semua untuk Ubii.

Terima kasih, Ubii, sudah memilih Papi sebagai ayahmu. Ubii sudah mengubah Papi jadi manusia yang lebih baik. Selanjutnya adalah tugas Papi untuk mengubah diri Papi menjadi lebih dari itu. Untuk Ubii (hal 266)

 

bahagia itu sederhana– Semua untuk Ubii –

Sumber : Koleksi pribadi Grace Melia (di FB)

 

 

Lewat kumpulan surat ini, pembaca diajak untuk mengerti tentang penyakit TORCH, khususnya tentang rubella, tanpa kesan menggurui. Kumpulan surat ini, dengan gaya bercerita Ges yang mengalir, jujur dan apa adanya, membuat buku ini begitu ringan dibaca dan sangat menyentuh, sehingga bahasan-bahasan berat tentang penyakit yang dipaparkan di sini bisa dengan mudah dipahami pembaca.

Cover buku ini dominan berwarna cokelat, terselip juga gambar amplop surat dan kacamata, juga beberapa foto Ubii, menurutku sangat pas dengan isi buku ini. Tak perlu gambar lucu dan warna-warna terang di cover buku karena buku ini memang bukan buku cerita anak.

Hanya saja ada typo di hal 246 : bersi (harusnya berisi), selain itu di beberapa bagian( 4 halaman) ada font yang berbeda dari lainnya, font nya lebih besar, hal 190-191 dan 200-201. Entah memang sengaja dibuat lebih besar atau tidak, tapi akan terlihat lebih rapi jika besar font nya sama. Ya, mungkin untuk cetakan selanjutnya bisa diperbaiki.

O’ya sedikit saran saja, ya. Kumpulan surat ini kalau ada tanggalnya pasti asyik, jadi saat keluarga membaca buku ini atau saat Ubii besar nanti dan membacanya, dia akan tau kapan dia untuk pertama kali bisa mendengar, kapan pertama kali melakukan fisioterapi dll. Di buku ini cuma ada 2 surat yang tercantum tanggalnya yaitu di surat “Buat Kamu, Anakku” (hal 17) dan “Natal Pertama Ubii” (hal 62).

Secara keseluruhan, bagiku pribadi, buku ini sangat luar biasa.

Ini pertama kalinya aku membaca buku momlit dan aku sangat menyukainya. Buku ini sukses membuatku menangis, padahal baru membaca beberapa halaman depannya saja. Dan memang akhirnya sekotak tissue menemaniku saat membaca buku ini. Apa mungkin aku yang terlalu cengeng, ya? Menurutku nggak juga, karena pembaca yang lain banyak juga sepertiku. Benar, kan? *hayoo ngaku 😀

Surat-surat itu benar-benar mak jleb banget, sungguh membuatku “tertampar”, malu dan tersadar. Sungguh jika aku yang berada di posisi Ges, apakah aku akan sekuat itu? Aku tidak yakin. Menghadapi anak yang demam saja, aku sangat cemas dan suka mengeluh. Ah, apa yang kulakukan untuk anak-anakku selama ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ges untuk Ubii.

Sungguh, dari depan sampai belakang, buku ini membuatku terhanyut. Seakan ikut merasakan kesedihan Ges, ikut bersorak girang saat Ubii terjatuh dari tempat tidur (yang menunjukkan perkembangan Ubii semakin baik), ikut merasakan semangat Ges, bahkan saat Ubii diserahkan ke Tuhan pada hari Natal, entah kenapa hatiku ikut bergetar dan mengamini doa yang diucapkan Pdt. Samuel kepada Ubii. Semoga Ubii bisa menjadi terang dan garam bagi keluarga dan sekitarnya. Amin.

Anak ini tidak akan hidup dalam ketakutan. Anak ini tidak akan hidup dalam kekhawatiran. Anak ini tidak akan hidup dalam keputusasaan. Anak ini akan menjadi anak pemberani dalam menghadapi setiap tantangan hidupnya. Anak ini akan menjadi terang dan garam bagi keluarga dan sekitarnya. (hal 63)

 

review #LetterstoAubrey

 

Apa yang sudah kudapat dari membaca buku ini?

Banyak!

Buku ini mengajarkan banyak hal kepadaku, selain tentang TORCH juga tentang berbagai pelajaran kehidupan antara lain tentang kekuatan cinta, semangat dan perjuangan keras seorang ibu demi anak tercinta.

Beberapa pelajaran kehidupan yang kudapat dari buku ini antara lain :

  1. Hidup itu sangat berharga dan harus diperjuangkan.
  2. Seorang ibu bukanlah superwoman setiap waktu. Meski cuma sedikit pasti ada saat-saat dimana rasa sedih, marah atau lelah datang menghampiri. Itu lumrah, tapi yang terpenting adalah tidak berlarut-larut dan bisa menyikapinya dengan positif thinking.
  3. Menjadi seorang ibu, apalagi yang mempunyai anak istimewa seperti Ubii, harus mempunyai “kekuatan” ekstra dan semangat yang pantang menyerah.
  4. Rencana Tuhan pasti yang terbaik, meski terkadang tidak dimengerti manusia, semuanya pasti indah pada waktunya. Kita manusia hendaknya ikhlas, tetap percaya, selalu bersyukur, berdoa dan berharap kepadaNya.

Satu kata untuk buku ini : inspiratif! Sungguh buku yang layak dibaca oleh mereka yang belum menjadi orang tua maupun yang telah menjadi orang tua. Buku ini akan kusimpan dan kuberikan kepada putri-putriku yang nanti nya juga akan menjadi seorang ibu, supaya mereka mengerti tentang TORCH dan juga memetik pelajaran “kehidupan” yang sangat berharga dari buku ini.

Empat dari lima bintang untuk buku ini 🙂

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Review #LetterstoAubrey

Banner Review (1)

 

 

12 Comments

  1. Lidya October 27, 2014
    • Lianny October 29, 2014
  2. Orin October 28, 2014
    • Lianny October 29, 2014
  3. Uniek Kaswarganti October 28, 2014
    • Lianny October 29, 2014
  4. Nchie Hanie October 28, 2014
    • Lianny October 29, 2014
  5. Grace Melia October 30, 2014
    • Lianny November 1, 2014
  6. Nathalia DP October 30, 2014
    • Lianny November 1, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.