Buku

Review Buku : Lukisan Hati – Pelajaran Ikhlas

 

??????????

 

Judul Novel Islami    : Lukisan Hati

Penulis                       : Ade Anita

Penerbit                     : PT Elex Media Komputindo

ISBN                          : 978-602-02-3653-7

Tebal Buku                : viii + 389 halaman

Tanggal Terbit          : April 2014

Jenis Cover              : Soft Cover

 

Blurb :

 

Pernahkah dalam hati kita terbersit sebuah pertanyaan yang berbahaya seperti yang dialami oleh Solasfianan kali ini? Dia bertanya tentang apa itu ikhlas, karena bagi Solasfiana amat sulit untuk belajar ikhlas.

“Aku takut…aku takut menjadi hamba Allah yang tidak pandai bersyukur dengan pertanyaanku itu. Tapi sungguh pertanyaan itu selalu hadir dalam hatiku dan aku susah payah menepisnya agar hilang. Aku takut berdosa dengan pertanyaanku ini.”

Ikhlas, sepertinya hal paling sulit dipelajari dalam kehidupan di atas bumi ini. Solasfiana harus belajar untuk memahami ikhlas, demi mendapatkan ketenangan hati.

Dengan bekal pelajaran ikhlas yang baru saja dipahaminya, Solasfiana kali ini harus bertemu dengan kisah cinta yang rumit. Ya, Solasfianan sudah mulai dewasa sekarang, tidak lagi seorang anak SMA. Kedewasaan berarti tuntutan semakin banyak. Salah satunya adalah desakan untuk segera menikah. Terlebih dia juga mempunyai seorang adik perempuan yang sudah ingin cepat-cepat menikah. Ikhlaskah Solasfiana dilangkahi oleh adik perempuannya tersebut? Berhasilkah ia menemukan cinta sejatinya?

 

***

 

Novel “Lukisan Hati” karya Ade Anita ini merupakan novel bagian kedua yang bercerita tentang sosok Solasfiana. Novel bagian kedua ini adalah pengembangan dari novel bagian pertama yang berjudul “Yang Tersimpan di Sudut Hati”.

Aku sendiri belum membaca novel bagian pertamanya, tetapi secara garis besar sudah memahami cerita di dalamnya karena sudah diceritakan secara singkat dalam “Sebuah Awalan” di novel kedua ini (hal v).

Sebagai anak tertua, Solasfiana memegang tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Solasfiana rela tidak meneruskan sekolah demi menghidupi keluarganya. Ya, Solasfiana mengedepankan kebahagiaan keluarganya daripada kebahagiaannya sendiri. Tapi sebagaimana manusia biasa, kadang kesepian dan kesedihan juga mengusik hatinya. Solasfiana mempunyai sahabat pena yaitu Aulia Rahman tempatnya berkeluh kesah menceritakan semua hal yang dialami dan dirasakannya itu. Solasfiana juga banyak mendapat nasehat dan pencerahan tentang memaknai hidup melalui Ustadz Ikhsan yang kehilangan penglihatan sejak kecil.

 

Solasfiana adalah anak tertuanya, anak yang paling memiliki inisiatif untuk mengajak adik-adiknya bangkit berdiri setelah terpuruk. Anak sulung yang paling banyak memberikan pengorbanan demi membahagiakan keluarganya. Bahkan itu meski berarti harus merelakan kebahagiaannya sendiri ( hal 8 – 9 ).

 

Cerita dimulai dari mimpi buruk Solasfiana. Solasfiana menemukan surat-surat yang ditulis Sofyan untuknya sejak Solasfiana dan keluarganya meninggalkan dusun 3 tahun yang lalu. Sofyan menganggap Solasfiana meninggal dunia karena tidak ada kabar berita. Lebih jauh lagi Sofyan bahkan mengambil sebuah keputusan, menyetujui rencana orang tuanya yang ingin menjodohkannya dengan Nurhayati, seorang gadis yang masih saudara jauh.

 

Dianggap tiada karena sebab kebencian, mungkin adalah sesuatu yang amat lumrah terjadi. Tapi dianggap tiada karena rasa cinta yang mendalam dan ketiadaan kabar, adalah sesuatu yang amat menyakitkan ( hal 11).

 

Konflik demi konflik tersaji lewat alur yang maju mundur di novel ini. Diceritakan pertemuan antara Solasfiana dan Sofyan, beberapa hari sebelum hari pernikahan Sofyan dan Nurhayati. Berlanjut pada batalnya pernikahan Sofyan dan Nurhayati dan munculnya si kecil Zahra anak dari Zainuddin, tetangga Solasfiana. Zahra yang menjadi buta dan harus kehilangan ibunya karena kecelakaan menjadi sangat dekat dengan Solasfiana. Karena itulah, diam-diam Bu Zairi, ibu dari Zainuddin berharap sekali Solasfiana menjadi istri Zainuddin. Di lain pihak Sofyan pun mulai melakukan pendekatan lagi kepada Solasfiana. Konflik teramat berat dialami Solasfiana ketika adik perempuannya Marsyapati ingin melangkahinya menikah terlebih dahulu.

 

Rasa sayang dan rasa bersalah berkumpul jadi satu dalam hatinya, bergumul dengan rasa tersinggung dan ketakutan atas prasangka penduduk jika mengetahui bahwa dia akan dilangkahi oleh adiknya. Hukuman sosial dari masyarakat akan sebuah kondisi yang tidak diinginkan memang terkadang lebih terasa memasung ketimbang hukuman penjara. Seumur hidup akan ada cap yang disandang pundaknya dan itu sungguh amat berat memanggulnya. Benar-benar berat. Karena pada setiap langkah yang terayun, akan selalu ada pandangan mata menuding yang langsung menghunus jantung. (hal 379)

 

Ikhlaskah Solasfiana dilangkahi adiknya? Kepada siapa akhirnya Solasfiana melabuhkan hatinya?

Ending dari novel ini membuatku terpana, beneran nggak ketebak endingnya. Wow, ternyata… penasaran ya? Yang penasaran baca saja sendiri novelnya ya haha 😀 Menurutku sih, ending ini malah bikin tambah penasaran. Beberapa pertanyaan mulai bermunculan di kepalaku. Hhhmm mungkin rasa penasaranku akan terjawab di buku selanjutnya dari penulis *apakah ada buku ketiga nanti mak Ade Anita? 🙂

 

Aku mendapatkan pengetahuan baru yaitu kata-kata khas Palembang, termasuk juga makanan-makanan daerah itu, seperti  kecepan tuongkus dan burgo.

Desain cover berlatar belakang hijau muda dengan gambar hati di tengah-tengahnya cukup mewakili isi dari novel ini. Warna hijaunya memberikan kesan sejuk dan kelapangan hati.

Pelajaran berharga yang bisa kupetik dari novel ini antara lain tentang ketegaran seorang wanita menghadapi kesulitan hidup, Dan yang terutama adalah tentang keikhlasan. Ikhlas akan membuat jiwa menjadi lebih damai dan bahagia.

 

“Ikhlas itu, mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah ta’ala. Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada satu pun yang kita miliki. Semuanya milik Allah ….

Jadi, karena hanya Dialah Pemilik Tunggal, maka Allah bisa memberikannya kepada kita kapan saja tapi sekaligus bisa mengambilnya kembali kapan saja juga.”

(hal 134,135)

 

***

 

28 Comments

  1. Lidya August 26, 2014
    • Lianny August 28, 2014
  2. irmasenja August 27, 2014
    • Lianny August 28, 2014
      • alaika September 1, 2014
        • Lianny September 2, 2014
  3. Indah Nuria Savitri August 27, 2014
    • Lianny August 28, 2014
  4. Idah Ceris August 27, 2014
    • Lianny August 28, 2014
  5. prih August 30, 2014
    • Lianny September 2, 2014
  6. Nunu August 31, 2014
    • Lianny September 2, 2014
  7. ade anita September 2, 2014
    • Lianny September 2, 2014
  8. Miss Rochma September 2, 2014
    • Lianny September 9, 2014
  9. Elsawati September 4, 2014
    • Lianny September 9, 2014
  10. rahmi September 4, 2014
    • Lianny September 9, 2014
  11. Keke Naima September 7, 2014
    • Lianny September 20, 2014
  12. Ani Berta September 8, 2014
    • Lianny September 9, 2014
  13. listianah September 8, 2014
    • Lianny September 9, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.