Fiksi

Prompt #37 : Air Mata Peri Lily

 

Prompt 37* Sketsa oleh Masya Ruhulessin *

 

Pagi ini cerah sekali.  Langit berwarna biru terang.  Sekelompok peri bermain bersama dan tertawa dengan riangnya.  Tak jauh dari situ, seorang peri duduk sendiri dengan muka murung. Lily memang selalu dikucilkan oleh teman-temannya karena mempunyai wajah yang selalu sedih dan sering menangis tanpa sebab. Lily tak pernah mengerti kenapa sejak lahir dirinya mempunyai keanehan seperti itu. Lily sering menanyakan hal itu kepada Ratu Prisca, sang ratu peri.

“Ratu, kenapa hanya aku yang mempunyai keanehan seperti ini?”

“Lily, apapun keadaanmu, kau tidak boleh sedih.  Setiap peri punya satu kekuatan istimewa dalam dirinya, tapi terkadang tak disadari. Kau harus menerima keadaanmu dengan hati bahagia.”

“Aku tidak ingin menangis, tetapi seringkali air mataku keluar tanpa sebab. Teman-teman selalu mengejekku sebagai peri cengeng, Ratu.”

“Sabarlah Lily, siapa tahu suatu saat keadaanmu akan berubah.”

“Iya, Ratu.”

Tiap hari Lily menunggu keajaiban terjadi pada dirinya, tapi keadaannya tak pernah berubah. Lily hanya bisa menatap iri pada teman-temannya yang sedang bermain bersama. Kali ini Lily memberanikan diri menyapa mereka.

“Teman-teman, bolehkah aku ikut bermain bersama kalian?”

“Tidak! Main saja sendiri. Kami tidak suka bermain dengan peri cengeng sepertimu.”

“Tapi itu bukan kemauanku, aku juga tak mengerti kenapa aku tiba-tiba menangis.”

“Nah, aneh bukan? Menjauhlah dari kami, nanti kami ikut-ikutan aneh sepertimu. Sana, pergi!”

Lily menjauh dengan hati sedih.  Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya tentang manusia di bumi.

Di istana peri ini aku tidak punya teman. Apakah manusia di bumi juga akan mengejekku? Ah, kenapa aku tidak turun saja ke bumi? Tapi jika aku berani turun ke bumi, aku tak akan bisa kembali ke istana peri ini lagi. Kata Ratu Prisca, setelah tiga jam di bumi, tubuh peri akan musnah.

Hati Lily mulai bimbang, sampai akhirnya dia membuat suatu keputusan.

 

 ***

 

Lily mengepakkan sayapnya yang indah, dari atas langit biru dilihatnya bukit dan rumah-rumah penduduk di bumi. Sampai akhirnya dia tiba di sebuah desa yang gersang. Pohon-pohon dan tanah terlihat kering. Wajah penduduk desa terlihat muram.

Kasihan sekali mereka. Aku harus berbuat sesuatu selagi aku bisa.

Mata Lily mulai mengerjap. Perlahan-lahan air mata mulai menetes membasahi wajahnya. Kali ini Lily tak berusaha menahan jatuhnya air mata, dibiarkannya bulir bening itu kian menderas tanpa henti. Lily merasakan sebuah sinar keluar dari tubuhnya dan tubuhnya berputar-putar dengan cepat. Air matanya jatuh membasahi bumi. Tiga jam berlalu, Lily merasakan tubuhnya mulai memanas. Cuping telinganya yang runcing perlahan mulai mengecil, sayapnya perlahan mulai luruh. Sebongkah kebahagiaan hadir di hati Lily, bibirnya kini mengulas senyum. Beberapa detik kemudian tubuh Lily mulai memudar dan akhirnya lenyap, meninggalkan seberkas sinar berwarna pelangi.

Sementara itu penduduk desa saling berpelukan dan berteriak kegirangan di tengah derasnya air yang mengguyur bumi.

“Hujannnn! Huujaaannn! Terima kasih, Tuhan.”

 

***

Word : 436

 

 

18 Comments

  1. Istiadzah February 7, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  2. Helda February 7, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  3. dwina February 7, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  4. Orin February 7, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  5. efi fitriyyah February 8, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  6. Ny. Asvan February 8, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  7. Masya February 9, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  8. Lidya February 10, 2014
    • Lianny February 12, 2014
  9. RedCarra February 13, 2014
    • Lianny February 18, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.