Tulisan Yang Menang Lomba/GA

#Blonek Perjalanan Nekat Menemui Anak Tercinta

Kemarin aku buka blogdetik.com dan membaca kalau dotsemarang ngadain acara lagi, bagi-bagi kaos #Blonek buat para blogger yang bercerita tentang pengalaman gila dan nekat seputar perjalanan. Perjalanan gila dan nekat ala #Blonek? Wah langsung saja memoriku teringat dengan perjalananku ke kota Pare, Kediri tahun lalu.

Kenapa aku harus melakukan #Blonek Perjalanan nekat ini ?

Porprov Jatim III

Porprov Jatim III

Ceritanya nih, Christin, anakku yang pertama akan berangkat ke Kediri dalam rangka mengikuti Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) Jatim III pada tanggal 14 – 23 Juli 2011 tahun lalu, sebagai salah satu perwakilan atlet wushu Jember. Saat itu Christin baru masuk sekolah di kelas 6 SD. Masalahnya ini adalah pertandingannya yang kedua di luar kota, dan dia mesti berangkat bersama rombongan atlet dan Pembinanya naik bus yang disediakan Pengkab Jember. Orang tua tidak ada yang boleh ikut dalam rombongan tersebut karena harus ada kartu identitas dan seragam dari KONI dan semua nama sudah didata. Dari 10 atlet wushu yang diberangkatkan, Christin termasuk peserta paling kecil, selain 1 orang temannya lagi, yang lainnya SMP dan SMA, yang sudah biasa pergi tanpa pendampingan orang tua. Meskipun Christin berani berangkat sendiri, tetapi papanya tidak mengijinkan, dengan alasan anaknya cewek, masih SD, lamanya 10 har,i bukanlah waktu sebentar dan ini merupakan pengalaman baru baginya.

Seminggu sebelum berangkat, aku ublek-ublek google, nyari informasi tentang Pare, Kediri. Aku berharap ada travel dari Jember ke Kediri, ternyata ndak nemu. Alhasil, aku jadi pusing sendiri dan setengah pasrah, karena sampai sehari sebelum anakku berangkat, aku masih tidak tau berangkat naik apa ke sana dan bersama siapa.

Dari 5 orang tua , termasuk aku yang berencana berangkat, ada 2 yang mempunyai mobil, tetapi mereka tidak bisa berangkat lebih awal, mereka menyusul di hari pertandingannya saja. Kini tinggal 3 orang yang kebingungan karena tidak mempunyai kendaraan untuk pergi kesana, akhirnya tiga hari sebelum berangkat 1 orang memutuskan tidak jadi berangkat.

Kini hanya tinggal 2 orang lagi, aku dan mbak Retno yang anak cowoknya juga seumuran anakku. Aku was-was juga kalau mbak Retno tidak jadi berangkat, karena anaknya cowok dan sudah terbiasa ikut pertandingan tanpa pendampingan ortu. Lalu aku berangkat dengan siapa? Sedangkan papanya sudah wanti-wanti kepada Christin, “Kamu boleh berangkat, kalau mama juga bisa berangkat.”

Mungkin perjalanan seperti ini bagi orang lain adalah hal yang biasa, tapi bagiku ini benar-benar #Blonek, perjalanan nekat, karena:

1. Aku mau pergi ke daerah yang sama sekali belum pernah kukunjungi, tidak tau kondisinya seperti apa.
2. Seumur-umur aku ndak pernah pergi jauh sendirian naik kendaraan umum tanpa suami yang mendampingi. Naik bus sendiri pernah, tapi cuma sebatas ke Surabaya saja, kota lain tidak pernah.
3. Aku harus tega hati meninggalkan suamiku yang kelimpungan dan 2 anakku lagi yang kelas 5 dan 2 SD selama 10 hari karena harus masuk sekolah ( meskipun akhirnya mereka berdua dititipkan di rumah neneknya, karena papanya bingung kalau harus menggantikan tugasku sebagai ibu RT he..he..)

Anakku berangkat duluan tgl 14 Juli 2011 dan untunglah mbak Retno tetap memutuskan berangkat dan mengajakku naik kereta api besok paginya tgl 15 Juli 2011, ada salah satu saudaranya yang tinggal di Pare yang nanti akan menjemputnya di sana katanya. Malam sebelum keberangkatan awalnya kami janjian bertemu di stasiun, tapi aku bilang aku jemput di rumahmu saja, biar nanti tidak cari-cari (padahal dalam hati sebenarnya takut ditinggal he..he..).

Jadwal kereta api berangkat jam 05.00 pagi, aku mau beli tiketnya dulu malam itu, tapi kata mbak Retno, ndak usah khawatir, besok saja, langsung beli. Waduh.. tiket belum beli, suamiku nakut-nakutin lagi, gimana kalau akhirnya besok mbak Retno ndak jadi berangkat, gimana kalau tiket habis, gimana kalau… gimana kalau…. Wah, malam itu sampai kepikiran ndak bisa tidur, kalau bahasa kerennya sekarang sih, hatiku galau, galau dan galau.


Perjalanan nekat buatku inipun dimulai .. eng ing eng (tarik nafas dulu ah)

Jam 04.15 aku sudah nunggu di gang rumah mbak Retno, karena aku memang ndak tau rumahnya dimana, dan janjiannya juga gitu sih, disuruh nunggu di depan gang saja. Aku telpon tidak dijawab, aku sms ndak dibales, waduh gimana ini, dag dig dug hatiku. Setelah 20 menitan akhirnya yang kutunggu muncul juga dengan tas kopernya yg gede, senyum senyum lagi, ndak tau kalau aku sudah cemas ketakutan ternyata tadi lagi di kamar mandi katanya, jadi ndak bisa terima hp.

Kami lalu berangkat ke stasiun, membeli tiket harganya perorang kalau ndak salah waktu itu 26 ribu, kami naik kereta api kelas ekonomi, biar irit katanya, yah aku manut- manut saja, kalau ndak setuju gimana terus, aku kan cuma ngekor saja. Aku seperti orang buta yang ngikut dibawa kemana saja. Iya beneran lho, aku sudah memasrahkan hati dan ragaku sama dia, mau dibawa ke mana ya ngikut saja, lha wong aku ndak tau jalan sama sekali. Kalau dia nyasar, aku juga nyasar he.. he.. ini betul-betul perjalanan yang 80% nekat, belum 100% karena masih ada satu teman, kalau sendirian itu betul-betul 100% nekat dan gila kali ya. Kami naik kereta api Legowo dengan jurusan Tulungagung, turun di Jombang.

Meskipun katanya pernah ke Kediri, tapi mbak Retno ternyata juga agak-agak lupa, jadinya kami seperti orang linglung berdua, untung berdua ya tidak “bersatu”. Berkali kali tanya apa ini sudah stasiun Jombang sama penumpang yang lain. Akhirnya sekitar jam 11.30 kami turun di stasiun Jombang. Dari situ kami menunggu bus yang mau berangkat ke Pare. Bus banyak yang lewat tapi dengan tujuan ke Kediri, kalau Pare lain lagi. Aduh pegel banget kaki ini, udah siang bolong panas banget, bus jurusan Pare ndak muncul-muncul. Satu jam lebih kami berdiri di tepi jalan, keringat mulai bercucuran di mukaku. Eh ada orang bilang, “biasanya ndak selama ini kok, sekarang ini soalnya ada demo, sopir bus pada demo ndak mau jalan,” katanya. Aku lupa waktu itu demonya karena apa, yang ada di pikiranku waktu itu, lha terus sampai kapan ini nunggunya, aduh Tuhan.

Sampai jam satu siang lebih, akhirnya ada satu kendaraan umum yang menawarkan diri bisa mengantar ke jurusan Pare, mungkin karena dilihatnya banyak penumpang juga yang ingin kesana. Sopirnya mematok harga Rp 15.000 . Wah kebetulan pikirku, ndak usah nunggu lagi, mbayar agak mahal ndak apa, pokoknya sampai. Eh temenku ndak mau, ndak usah, kemahalan katanya, lagian malah ndak akan sampai tujuan, nanti pasti dioper-oper, nunggu bus saja katanya. Haduh.. aku mau bilang apa, aku kan cuma ngekor, jadinya ya terpaksa nunggu lagi, sementara banyak orang dengan tujuan Pare sudah berangkat naik kendaraan tadi.

Akhirnya jam 13.30 ( dua jam) nunggu, duduk di pinggir jalan, bus dengan jurusan Pare muncul, leganya. Penumpang busnya penuh, jadinya meski badan sudah lemes, terpaksa harus berdiri di dalam bus berdesakan dengan penumpang lain. Harga busnya Rp. 5000, perorang. Setelah berkali-kali bilang sama kondekurnya (sampai kondekturnya ngomel-ngomel ditanyai terus) kalau mau turun di Pare, sampai juga di tempat dimana saudara mbak Retno ini akan menjemput kami. Ini sudah sampai Pare, kampung Inggris kata kondektur agak ketus. Sabar dong bang, kami kan ndak ngerti jalan, jangan diomelin .. Kami lalu turun, ternyata saudara mbak Retno belum datang, untung sinyal waktu itu bisa connect, sehingga kami masih bisa nelpon ke rumahnya.

Akhirnya setelah 15 menitan, terdengar suara sepeda motor mendekat, saudaranya mbak Retno ternyata. Wah gimana ngangkutnya kalau pake sepeda motor. Jarak dari tempat itu ke wisma tempat anak kami berada lumayan jauh, becak juga tidak ada di tempat itu. Berarti kami akan diantar naik sepeda motor bergantian, halah.. berarti harus ada satu yang nunggu di tempat itu. Siapa dulu yang diantar? Kupandang sekeliling tempat itu, yang ada hanyalah sawah dan banyak pohon-pohon saja, tidak terlihat orang dan rumah penduduk, sunyi sepi sekali.

Terus terang kalau aku yang ditinggal, meskipun aku bukan anak SD dan umurku sudah tua seperti ini, aku takut setengah mati. Bukan takut hantu sih, tapi takut kalau ada orang jahat lewat atau orang gila lewat gimana. Kalau ditinggal di tempat yang rame, di stasiun atau terminal atau bandara, meski harus nunggu berjam-jam juga ndak apa, aku pasti berani sendirian, tapi ini… oh My God seperti masuk dalam hutan belantara yang banyak singanya (ini imajinasiku sendiri he ..he..)

Tapi aku ndak berani bilang sih, cuma berdoa saja dalam hati, semoga aku yang diantar duluan (egois ya, tapi gimana lagi, aku ndak berani sih, emang dasar penakut). Mungkin karena liat mulutku yang monyong komat kamit terus, mata merem melek, akhirnya mbak Retno nyuruh aku yang diantar dulu, takut kalau aku kesambet kalau ditinggal sendiri mungkin. Plong leganya hatiku, terima kasih.. terima kasih seribu buat temanku yang pemberani, cantik dan baik hati, terima kasih… terima kasih.

Tiba di Pare

Tiba di Pare

Akhirnya aku diantar naik sepeda motor dengan membawa tas koper yang lumayan berat, rasanya lamaaaaa sekali baru nyampe ke wisma. Ah.. sampai juga, aku turun dari sepeda motor dengan badan pegel semua. Anakku, akhirnya mama sampai juga di tempatmu nak, ini mama sayang hiks..hiks…. (padahal baru 1 hari ndak ketemu seperti sudah 1 tahun rasanya, ini mamanya yang lebay ).

Aku bergegas masuk dan pemandangan disana membuatku sangat terharu teman, kalian tahu apa yang kulihat? Aku melihat anakku makan sayur asem dan pepes ikan dengan lahap dan gembira bersama teman-temannya. Ah inginnya hati ini berlari sambil merentangkan tanganku lebar-lebar, memeluknya dan menari-nari (seperti di film2 Bollywood itu lho), tapi karena aku bukan artis yang lagi main fim, jadi itu tidak kulakukan.

Berpuluh pasang mata langsung menatapku dengan aneh, dan aku segera tersadar, mungkin wujudku sekarang seperti makhluk luar angkasa, baju lusuh dan berkeringat, badan juga bau keringat, rambutku mungkin awut-awutan kena angin, ditambah lagi menjinjing koper yang lumayan berat. Badan capek semua, jam waktu itu menunjukkan jam 3 sore, pantas kodok-kodok di perutku mulai bernyanyi melihat sayur asem yang segeererr keliatannya, karena dari pagi tadi cuma makan telor ceplok doang.

Mungkin keadaanku waktu itu sangat menyedihkan keliatannya, ditambah lagi aku yang berkali-kali nelen ludah (untung ndak ngiler), panitia jadi kasihan dan memberikan sepiring sayur asem padaku, karena masih ada sisa 3 piring katanya, horee! Tak lama temenku juga tiba di tempat itu dengan selamat, dan kami makan sayur asem dengan nikmatnya. Segala capek dan kepenatan sepanjang perjalanan rasanya hilang begitu bertemu anak kami …

Akhir #Blonek Perjalanan nekat untuk menemui anak tercinta …

Berakhirlah perjalanan yang buatku sungguh gila dan nekat ini, perjalanan yang kulalui untuk bisa mendampingi anakku selama di sana. Terima kasih Tuhan, aku sudah tiba dengan selamat di kampung Inggris, Pare, Kediri, suatu daerah yang sungguh asing buatku. Terima kasih Tuhan buat satu orang teman seperjalananku yang baik hati, yang menemaniku dalam perjalanan nekat ini. Leganya!

Sukses juga perjalanan nekatku ini, meski badan capek dan hati berdebar terus ( untung tidak terkena serangan jantung). Aku bisa bertemu dan menemani anakku selama 10 hari, pulangnya bisa nunut bus yang sama dengan anakku, hooreee! (coba kalau berangkatnya boleh, aku kan tidak perlu melakukan perjalanan nekat ini) dan kami pulang dengan selamat ke kota tercinta setelah kurang lebih 11 jam perjalanan dengan membawa oleh-oleh Getuk Pisang dari kota Kediri.

getuk pisang

getuk pisang

ps: Itulah sepenggal cerita tentang #Blonek, sebenernya masih banyak yang ingin kutulis, tapi aku singkat saja karena temanya memang cuma tentang perjalanan gila dan nekat. Kusertakan juga foto-foto kenangan terkait dengan cerita ini. Kalau foto sepanjang perjalanan sudah pasti tidak ada ( mana sempet foto kalau lagi kebingungan he..he..) Sukses terus dotsemarang …

2 Comments

  1. Bibi Titi Teliti May 23, 2012
  2. anny May 23, 2012
  3. Pingback: Nekat on (Last) Vacation | Namor@ Zone November 17, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.