Tulisan Yang Menang Lomba/GA

Berikan Aku Kesempatan

 

lima-peraturan-sekolah-paling-konyol-sejagatCredit

 

Neta masuk perlahan ke Café Biru dan mengedarkan pandangannya. Café Biru yang cukup terkenal di kotanya memang selalu ramai pengunjung, apalagi di hari Minggu seperti ini. Pandangan Neta berhenti tepat di bangku pojok sebelah kanan. Meskipun sudah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun, tetap saja Neta tak percaya dengan penglihatannya.

Tak sadar, Neta melangkah beberapa langkah lagi mendekati sosok lelaki itu. Sosok yang tak asing baginya itu sedang duduk berdua dengan seorang perempuan, mereka tampak mesra sekali. Wajah perempuan itu biasa saja, tapi tubuhnya terlihat padat berisi. Masih muda dan seksi, begitu Neta menilainya, apalagi perempuan itu mengenakan baju berwarna merah yang pas dibadan, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh indahnya.

Jadi benar kecurigaanku selama ini. Ternyata Mas Haris berselingkuh di belakangku.

Neta terpaku dan menatap suaminya dengan hati yang patah. Lama mematung di situ, tepat pada saat Neta akan membalikkan badan hendak pergi, Haris melihatnya. Ekspresi keterkejutan tampak di wajah Haris. Bergegas dihampirinya Neta.

“Neta, aku…”

“Aku mengerti, Mas. Tak perlu penjelasan lagi. Selama ini aku percaya padamu, bahkan tak pernah sekalipun aku mengecek bbm atau menjawab panggilan yang masuk tanpa sepengetahuanmu. Beruntung sekali, aku menemukan kertas ini saat akan mencuci kemejamu. “

Neta menunjukkan selembar kertas kepada Haris.

Sayang, kita ketemuan Minggu nanti jam 12.00 siang di café Biru ya. Kutunggu. Love, Ririn.

Haris masih ingat betul tulisan di kertas itu. Sekarang kertas itu ada di tangan isterinya. Haris mendesah gelisah.

Kenapa Ririn tidak bbm saja, malah menyelipkan kertas itu saat istirahat makan siang di kantor kemarin. Dan aku lupa untuk membuangnya. Sial!

Neta membalikkan badan dengan cepat dan bergegas keluar dari tempat itu. Haris mengejarnya dan saat akan berhasil menarik tangan Neta, Neta berlari menyeberang jalan tanpa memperdulikan sekelilingnya lagi. Matanya buram oleh air mata.

“Neta! Neta! Awas .. ada sepeda motor!”

Tak sempat mengelak, tubuh Neta terpelanting dan jatuh di jalanan beraspal yang keras.

Gelap.

***

 

Haris menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Badannya teramat lelah. Seharian dia menjaga Neta di rumah sakit. Kepala Neta membentur jalan, kakinya luka-luka dan lengan kiri Neta terpaksa dijahit. Sekarang Haris bisa sedikit bernapas lega karena saat-saat kritis Neta sudah terlewati. Haris pulang karena hendak mandi sekalian mengambil beberapa baju Neta. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum kembali lagi ke rumah sakit.

Setengah jam terlelap, Haris terbangun dan segera mengambil beberapa baju di lemari. Saat itu dia melihat sebuah buku bersampul merah muda menyembul diantara baju-baju itu. Selama ini dia tak pernah melihat buku itu. Segera diambilnya buku itu dan dibukanya cepat.

Diary Neta.

Dalam buku itu terdapat foto-foto dan sedikit tulisan dibawahnya.

Lembar pertama, berisi foto Haris dan Neta saat mereka masih kuliah. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum bahagia dengan kedua jari kelingking yang saling bertaut.

I love you.

Lembar kedua, berisi foto mereka berdua, saat pemberkatan pernikahan di gereja.

Hari bahagia. Kau dan aku kini bukan lagi dua, melainkan satu. Aku akan selalu menemanimu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.

Lembar ketiga, foto mereka duduk memandang senja di Pantai Kuta.

Berdua, menikmati indahnya senja. Ingin bersamamu, selamanya.

Lembar keempat, foto di rumah baru mereka.

Inilah hasil kerja keras kita. Terima kasih, Tuhan.

Lembar kelima, berisi gambar bayi yang dilukis sendiri oleh Neta.

Kapankah berita bahagia ini akan tiba? Tuhan, aku tak akan pernah berhenti berharap…

Lembar kelima.

Aku memang bukan wanita yang sempurna untukmu…

 

Mata Haris mulai memanas, dia tak sanggup lagi membuka lembaran berikutnya dari buku itu. Bayangan masa-masa indah bersama Neta bermunculan di kepalanya. Neta yang baik dan lembut. Neta yang menerima pesanan kue untuk menambah keuangan keluarga. Neta yang selalu memberi semangat saat dia lelah sepulang kerja. Neta yang setia mengurusnya saat dia sakit. Neta yang tak pernah mengeluh saat kondisi keuangan sedang sulit. Neta yang …

Ah, maafkan aku Neta.

Haris mengembuskan napas panjang. Penyesalan mendera hatinya.

Aku akan memutuskan hubunganku dengan Ririn sebelum terlambat. Maafkan aku, Neta. Sungguh bodoh jika aku menggantikanmu dengan perempuan lain yang belum tentu tulus mencintaiku, seperti dirimu. Hanya karena kau belum juga hamil, padahal sudah 4 tahun pernikahan kita.

 

***

 

Setelah menemui dokter untuk menanyakan perkembangan kondisi Neta, Haris bergegas menuju kamar tempat isterinya itu dirawat. Haris duduk disamping tempat tidur, dipandangnya wajah Neta dengan hati yang bergejolak. Wajah Neta masih terlihat pucat. Disentuhnya lembut pipi Neta.

“Neta, aku mencintaimu,” bisik Haris.

Mata Neta yang terpejam perlahan membuka.

Haris menggenggam tangan Neta erat.

“Neta, aku minta maaf. Aku salah sudah mengabaikanmu selama ini, padahal kau isteri yang baik. Kau selalu mendampingiku selama ini, tanpa pernah mengeluh. Hampir saja aku khilaf hanya karena kau belum hamil juga sampai sekarang. Aku tak peduli apapun lagi. Aku hanya ingin kau segera sembuh. Aku belum terlambat, kan? Berikanlah kesempatan sekali lagi padaku, Neta. Maafkan aku..”

Neta hanya menatapnya dengan pandangan aneh dan menggelengkan kepalanya dengan bingung.

Haris tersenyum getir.

Neta, meski sekarang kau tidak mengingatku karena amnesia, aku akan terus menunggumu sampai ingatanmu pulih. Aku akan berjuang mendapatkan kembali cintamu, sampai kapanpun.

***

 

Word : 807

 

“AttarAndHisMind First Giveaway”

 

8 Comments

  1. Dedew December 8, 2014
    • Lianny December 25, 2014
  2. Ryan December 12, 2014
    • Lianny December 25, 2014
  3. Ika Koentjoro December 14, 2014
    • Lianny December 25, 2014
  4. adi pradana December 17, 2014
    • Lianny December 25, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.