Fiksi

[BeraniCerita #1] Surat Merah Jambu

Surat merah jambu itu begitu indah warnanya, warna kesayanganku. Tapi itu dulu, tidak sekarang ..

Dear Risma,
Baru sekarang aku bisa menulis surat ini. 
Aku sengaja tidak mengirim kabar agar konsentrasi kuliahku tidak terpecah.
Kau tau, aku sekarang sudah menyelesaikan kuliahku di Australia ini.
Sebentar lagi aku akan pulang ke Indonesia. Aku akan melamarmu ..
Cintamu : Roy

 

Aku menghela napas panjang, surat merah jambu masih ada dalam genggaman tanganku. Bayangan memori masa lalu menari-nari di benakku.

 

Alangkah indahnya kita berdansa malam itu. Pijar kerlip cahaya bintang menjadi saksi. Tangan kita saling bertaut dan dekap erat itu mampu menghangatkan tubuh kita berdua. Masih ingatkah kau saat kita merangkai mimpi, menggapai bintang harapan berdua?
Tetes air mata sudah kita lewati bersama dan tawa bahagia juga sudah kita kecap berdua. Tidakkah semua itu berarti buatmu?
Mungkin bagimu semua itu hanya memori sekejap yang bisa dihapus bersama waktu. Tapi tidak bagiku.

 

Tak tahukah kau, tiga tahun lamanya aku bertanya dalam ketidak mengertianku.
Selama itu pula, aku dengan sabar menunggu kabar darimu.
Hati ini begitu sakit dan berdarah, luka itu menganga lebar …
Aku terpuruk sendirian. Meratapi kelam yang semakin pekat.
Berjalan terseok -seok menerobos hutan yang tak lagi indah.
Berteriak marah kepada Tuhan.
Apa kau tau semua itu?
Kini  setelah aku mulai menemukan kekuatan hidupku lagi, kau memberi kabar dan menginginkanku kembali menjadi milikmu?
Tidak segampang itu! Kau sudah terlambat!

 

“Risma …”
Suara lembut seorang lelaki membuat surat merah jambu itu terlepas dari genggamanku. Meluncur jatuh ke lantai.
“Kamu tidak apa-apa kan Ris?” lelaki itu melirik surat merah jambu yang tergeletak di lantai.
“Aku tidak apa-apa ..” senyumku kepada lelaki di depanku, lelaki yang mengetahui semua rahasia hidupku. Lelaki yang menampung semua tetes air mataku. Lelaki yang memberiku kekuatan baru agar bangkit dari keterpurukan. Lelaki yang hari ini resmi menjadi suamiku …
Kecupan lembut mendarat di keningku, dengan kelembutan yang sama lelaki itu menggendong tubuhku, memasuki kamar pengantin kami ….

Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.

 

8 Comments

  1. Helda Fera February 20, 2013
  2. vera astanti February 20, 2013
  3. hana sugiharti February 20, 2013
  4. Agustinus Darto Iwan Setiawan February 20, 2013
  5. Istiadzah Rohyati February 20, 2013
  6. RedCarra February 20, 2013
  7. the others February 20, 2013
  8. Lianny Hendrawati February 21, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.