Fiksi

[BeraniCerita #05] Lorong

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

“Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

Hampir saja Riana tertabrak kereta dorong itu kalau saja ia tak segera menahannya.  Ada seseorang yang berbaring di kereta dorong itu, tapi seluruh badannya tertutup kain putih.

Kereta dorong ini kok bisa jalan sendiri? Siapa ini? Mayatkah?

Riana bergidik ngeri.

Tiba-tiba muncul wanita berpakaian putih-putih, berlari-lari menghampirinya.

“Maaf, kereta dorong ini tadi terlepas dari tanganku,” kata wanita itu cepat sebelum Riana sempat bertanya. Rambut panjangnya hampir menutupi sebagian wajahnya.

Ehmm  sepertinya aku familiar sekali dengan wajah wanita tadi. Mirip siapa ya?

Sementara Riana masih mengingat-ingat, wanita itu lalu memegang kereta dorong tadi dan dengan cepat berlalu .

Riana segera meneruskan langkah menuju kamar Sinta.

 

Kamar 102. Kamar Sinta.

“Sinta..” Riana membuka pintu kamar itu dengan tersenyum.

Sinta tak ada di tempat tidurnya. Kemana dia?

Bergegas Riana melongok ke kamar mandi. Tak ada.

Keadaan di kamar itu agak berantakan.

“Sinta!” teriak Riana panik. Dipencetnya tombol di sebelah ranjang Sinta, memanggil perawat. Begitu seorang perawat muncul di pintu, Riana langsung mencecarnya dengan pertanyaan.

“Dimana adikku suster? Suster tau kan kalau kondisinya masih labil karena kehilangan bayi yang baru 1 bulan dilahirkannya? Kenapa suster meninggalkannya sendirian? Sinta bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain!” teriak Riana marah.

“Sabar mbak, 1 jam yang lalu Suster Rita yang bertugas menjaga Sinta. Tapi …. kemana mereka sekarang?”

Riana bertambah gusar. Tiba-tiba bayangan kereta dorong tadi terlintas di benaknya. Riana terlonjak kaget.

Wanita tadi … wanita tadi begitu mirip dengan ….

“Sinta!!!  Sinta!!” Riana berlari keluar kamar sambil mencari-cari kereta dorong yang tadi hampir menabraknya.

 

Di dekat taman yang gelap di Rumah Sakit itu …

Sinta berjongkok di depan sebuah kereta dorong.

Siapa bilang aku gila! Aku tidak gila! Aku hanya ingin bersama dengan anakku ini.

Sinta membuka kain putih dan memeluk erat sesosok tubuh yang terbaring di kereta dorong itu, Suster Rita.

“Anakku sayang, jangan takut ya. Ada mama disini yang akan selalu menjagamu .”

Sinta tersenyum lebar.

Word : 393

 

5 Comments

  1. Orin April 4, 2013
    • admin April 5, 2013
  2. Miss Rochma April 4, 2013
    • admin April 5, 2013
  3. Syukur May 13, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.